(22/09/2012)
Alhamdulillahilladzzi bini’matihi tutimmussholihat…. Tak ada
yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Dua pekan telah berlalu di bangku
perkuliahan ini. Dua pekan terlalu singkat untuk menyusun seribu satu cerita.
Pahit manis telah melebur menjadi satu, senyum dan tawa sudah bagai bumbu tak
terpisahkan. Hari ini hanya ada satu mata kuliyah, tak ada kegiatan lain, hanya
itu. Saya juga tidak mengerti, mengapa lelah ini menghampiri. Hamper saja aku
tak dapat melaksanakan solat ashar karena tertidur. Astagfirullahal azhim, teriakku bangkit dari tidur sore itu. Ada
wajah yang tiba-tiba muncul di hadapanku, tidak asing lagi sebenarnya, aku
sangat menghormatinya. Bang Kamal, begitulah kami akrab memanggilnya, sang presiden
BEM. Lelah menggelayuti, terasa baru pulang dari petualangan panjang. Aaaah…
jiwamu terlalu lemah, jangan cengeng lah. Lihat saja lelaki yang ada di
hadapanmu sekarang, beban yang dipikul seratus kali lipat lebih besar darimu
dan lihatlah sekarang ia berada di depanmu. Lihat saja senyumnya, seakan baru
saja pulang dari safari keceriaan, tak tergambar debu kelelahan di wajah
karismatiknya
, tak ada kata keluhan yang terucap lidahnya. Tidak hanya itu, di
tengah beban dan amanah yang sangat berat dan harus ditunaikan, ia sempatkan
dirinya mengunjungimu, hanya untuk mengunjungimu, dan hadir menyapamu. Padahal
kamu belum pernah mengunjunginya sebelumnya. Tidak cukupkah lelaki ini menjadi
alasanmu untuk bangkit? Belum cukupkah lelaki ini menjadi inspirasi hidupmu?
Apa yang engkau mau? Apa lagi yang engkau tunggu? Ayooo, bergegaslah segera,
jangan biarkan lelah membagun rumah di jiwamu, jangan biarkan keluhan mengotori
lidahmu. Keluhan hanya akan menambah kelelahan jiwamu.
“zam, sudah solat asar belum?”
bagai kakak kandung yang menanyai adiknya, ucapan itu bang kamal tujukan untukku.
Aku malu, anak pesantren sepertiku masih saja sering solat tidak tepat waktu.
Akupun segera bergegas menunaikan solat.
Kahayalku stelah solat, tentang
ibuku bagaimana kesehatannya. Tentang ayahku bagimna juga dengan kesehatannya.
Tentang saudara-saudaraku bagimna dan sedang apa mereka saat ini. Ingin sekali
membahgiakan mereka terutama ibu, aku tak sabar menunggu, waktu dimana
kesuksesan itu dapat kupersembahkan pada mereka. Ya Allah, sesungguhnya ini
adalah malamMu yang telah menjelang dan siangMu yang telah berlalu. Serta
suara-suara dari penyeruMu, maka ampunilah aku. Ya allah sesungguhnya Engkau
Maha mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah
hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru ke
jalanMu, dan berjanji setia untuk membela syari’at-Mu, maka kuatkanlah ikatan
pertaliannya, ya Allah abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan
penuhilah dengan cahayaMu yang tdak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan
keindahan iman dan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu, dan matikanlah
dalam keadaan syahid di jalan-Mu, Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan
penolong. Amiin, dan semaga sholawat
salam tercurah kepada baginda Muhammad SAW, keluarga, dan sehabat beliau.

0 komentar:
Posting Komentar